Ama dosen speaking
gue disuruh gambar apapun. Tar suruh cerita di depan kelas.
Gambar dech hati
patah jadi dua. Hehehe... broken heart.
Patah hati lo Nok?
Engga! Cuma seru
aja kalo malem-malem, abis kerja, capek, terus dengerin cerita yang ‘cewek’
banget.
(Ini sebenarnya ga
berani nulis gue broken heart karena apa, lah orangnya aware banget ama nich
blog. LOL! Hayooo, read my mind, guys! I dare you! :P who’s the lucky-unfortune
man?)
Tuh kertas
bergambar akhirnya digulung. Tuh dosen manggil nama gue, buat ngambil gulungan
kertas pertama, terus nanyain siapa yang gambar. Apa fungsinya dan bagaimana
makenya.
Gue langsung shock?
Gambar gue gimana?
“Oh my (God)...., I
drew a broken heart.”
Temen-temen sebelah
tempat duduk gue ketawa. Mereka soalnya uda heboh dengan pertanyaan
masing-masing pas gue gambar tuh hati ada geriginya berhadap-hadapan.
Hahaha....
Ga kebayang kan
bakal ditanyain “What is it for?”, “How I use it?”
Untungnya waktunya
abis sebelum kertas gue diambil. Jadi ga perlu bilang yang aneh-aneh. Tapi
kalopun dapet giliran, gue dibantu temen-temen gue buat merumuskan jawabannya.
Apa?
“I like writting, I
name myself a writter, even only for myself. I love to write a sad story. And I
think broken heart will inspire me to write a sadful-tornful-fall-part story
which can make my readers cry. Broken heart can make me comprehend the story fully”
Jawabannya gue
banget yaks. Hahaha.... ngarang berdasarkan pengalaman. : )
Diajarin masak ama
tetangga kamar gue. Orangnya ibu-ibu. Ama nyokap gue aja tuaan dia. : )
Hehehe.... tapi taulah ya penampilan ‘orang tua’ Jakarta ama ‘orang tua’
kampung. Saingan ama gue, tetep! : )
Jadi deket
gara-gara kita bedua demen banget ama yang namanya warna pink. Mulai dari
tempat toiletries, ember, piring, rak, dusbin segala rupa semuanya.... pink.
Hahaha, jadi inget request ricecooker ama mas-mas SPG sampai semingguan. “Coba
seminggu lagi kesini, Mba.” Gue jabanin. Nasinya ga enak kalo ga pake warna
pink! (Masak lo Nok? Kalo lagi kambuh pengen fasting aja cee. : ) Niatnya gitu,
tapi dipakenya pas Dee dateng kesini, tuh pertama kalinya! LOL! Sekarang? Lebih
banyak nganggurnya daripada kepakenya. : ( ).
Diajarin masak
cumi. Cumi ama segala rupanya juga dari beliau. Gue Cuma pake instruksi. Beliau
goreng-goreng pisang, gue nanya sana-sini ribet ama resep. :P
Instruksi-instuksinya beliau sich ya. Tapi daripada nenek pikun ini makin
parah, ya sudah.... gue tulis. Minta kertas ama pulpen ama yang jagain kosan. :
)
Terus pas lagi masak-masak
gitu, si Ibu kasih-kasih tips gitu soal bikin pisang goreng kipas. Satu hal
yang sedikit gue inget adalah ga semua jenis pisang bisa dijadiin pisang goreng
kipas, kalo ga jadinya bisa terlalu keras ato terlalu lembek ato malah ga
ngebentuk. Gorengnya juga harus pake feeling, biar depan ama belakang rata
matangnya, coklatnya pas, mekarnya juga bagus. Cantik kalo uda dihidangin. : )
Jadi mikir tentang
hubungan....
Hubungan juga gitu.
Kenapa si A bisa cocok dengan B, dan kenapa tidak bisa cocok dengan C? Menurut
lo kenapa Peeps?
Mungkin A adalah
resep pisang goreng kipas, si B jenis pisang yang cocok untuk jenis resep itu,
sedangkan si C bukan. Bisa aja sich dipaksain goreng C, tapi jadinya? Yaa.... mungkin
sekedar pisang goreng. : ) Pisang goreng yang sering gue beli gopek-an di
abang-abang deket terminal. LOL!
Dalam menjalani
hidup, kita sering sekali menemukan hal-hal yang cocok dan sesuai dengan kita,
banyak juga yang tidak sesuai dengan kita. Kita memiliki karakter, kepribadian,
impian, dan harapan yang berbeda-beda. Ada masanya kita menemui hal yang tidak
cocok, tidak sesuai, tidak menyenangkan dengan apa yang kita harapkan, sesuatu
yang bergesekan dengan karakter kita, kepribadian kita. Jika kalian pikir
kalian bisa bertahan dengan semua itu, it’s ok. Stay there. Kalo engga... Tuhan
ngasih hak kita buat memilih kok. Kalo ada pisang yang emang pas (rupa, harga,
kualitas) untuk pisang goreng kipas, ngapain ambil jenis lain. Itu kenapa
menjadi wajar untuk memiliki ‘geng’ di sekolah, di kampus. Geng dalam artian
positif ya. LP (laskar Penyet) misalnya, yang bener-bener we are
Jogja-UNY-Family. : ) Karena gue nyaman ama mereka, dan biasa aja dan ga
‘greget heboh’ ama yang lain. : ) Lo ga bisa maksain seseorang untuk mencintai lo,
karena itu ga hanya akan menyakiti orang itu, tapi juga orang itu. Lo ga bisa
memaksa seseorang untuk menjadi temen baik lo, memperhatikan lo setiap waktu,
kalo kalian tidak saling mengisi dan melengkapi. Lo tidak bisa memaksa orang
lain menjadi apa yang lo inginkan, karena mereka memiliki pola ‘pattern’ pikir
yang berbeda.
Dalam sebuah
hubungan, kadang kita juga mengalami apa yang disebut tersinggung, kecewa,
sakit hati. Entah dilakukan teman kita, pacar kita, atau bahkan orang tua kita.
Hmmm.... pisang goreng kipas, akan menjadi menggembang hebat, enak dan lezat,
karena adanya sayatan pisau tajam yang membelahnya, karena adanya panas minyak
yang menggorengnya dan waktu menggoreng yang tepat. Sakit, luka, kecewa,
kegagalan, akan membuat kita kuat, semakin dewasa, dan cantik. Akan mengajari
kita akan banyak hal yang membuat kita naik tingkat. Dalam hubungan, gue
sendiri menamainya.... ada sebuah bab yang disebut ‘maklum’. Manusia ga ada
yang sempurna. Kita juga kan? : ) Tapi ingat, ada batas-batasnya. Bayangkan
saja jika minyak untuk menggoreng pisang terlalu panas, atau terlalu lama.
Bukannya menjadi kuning kecoklatan, enak, dan renyah. Pisang itu akan menjadi
hitam, gosong, dan tidak menarik. Siapa yang mau memakannya? Dalam hubunganpun,
tidak dibenarkan ada satu pihak atau bahkan keduanya yang merasa tersakiti sampai
tak berdaya. Itu tak berguna, tak akan mendatangkan apapun selain penderitaan.
Itulah batas untuk menentukan apakah lo akan tetap stay dengan hubungan itu,
dengan temen lo itu, ato lo move on.
It’s so April match.
But, we can take any lesson from it. : )
We know that
Chealsea had only 10 player in that match. We know Barcelona is superior and
Chelsea is just underdog team. Everyone did predict Barcelona would win that
match. But Chelsea won that game. No one could believe it. But it’s the fact, chealsea’s
the winner - you couldn’t deny that. (That night, Chelsea – Barcelona is 2-2.
Chealsea won the game, coz the last match, Chelsea won 1-0 from Barcelona. The
aggregate’s 3-2 for Chelsea).
There’re many
comments after that match. This post will ‘light up’ those comments. : )
(Actually, I got
this article in Bahasa. The comments’re also written in Bahasa. I wanna
translate it in English, but I’m afraid to ‘mar’ it. So, I thought better I wrote
them in Bahasa. :P)
Cech: Chelsea
tampil 150 persen.
From his comment,
we can learn that to be success, don’t do something ordinary. Act
extraordinary, even you’re pressed by other, even no one believes in you. 100%
is ordinary, 150% and more is extraordinary. Whatever you should do, do the
best!
Cole: Chelsea
sedikit beruntung
Torres : Tim
terbaik tidak selalu menang.
Even you are the
winner, be down to earth. We never know what will happen next day. Arrogant isn’t
a character of success person. You can win every game, have many great
companies, be a super-duper rich person... but if you’re not humble, you’re
nothing.
Cuenca: Kami akan
bangkit!
Don’t give up! Everything
happens for a reason. Failure makes we learn. Think Positively!
Pep Guardiola:
Selamat kepada Chelsea, semoga sukses di final.
Appreciate the
winner! Even we’re not the winner, doesn’t mean we should ‘get across’. You can
lost the game, but don’t ever ‘lost’ your attitude.
John Terry: Saya
telah membuat mereka kecewa, saya minta maaf.
(We know Tery’s a player
who got a red card and out from the match).
Sometimes we make
mistake. Just be brave to admit it, just be brave to apologize, and don’t
forget to learn ‘bout it. And remember apology is nothing if you do the mistake
twice.
Don’t blame ourself
without change. Move on, and be better! Another door is opened, don’t stare a
closed door too long.
Don’t blame each
others if you’re in a team. Hold each others and stay together. A mistake
shouldn’t split a team, but should make it stronger.
Kritik itu muncul karena pemberi
kritik perhatian ama kita. : )
Beberapa kritik yang diinget
datang dari temen-temen deket gue. Dari Iteh misalnya, ketika kelas 1 SMA...
hohoho, embuat gue membuka diri pada banyak hal, menjadi manis. Mungkin itu
juga yang membuat kita dekat sampai sekarang, dengan jarak kita... dengan
apapun yang pernah terjadi.... kita saling menyemangati dan mengingatkan. : )
Dari Mba Veet, walo belakangan
dia jadi menjauh gara-gara gue menjadi orang yang paling gemes ama skripsinya
yang ga dikerja-kerjain.... dia pernah mengkritik tentang gue dan twin Retno.
Mungkin tanpa kritikan itu, gue ga akan deket dengan twin Retno. : )
Dari Mom Dis, gue dikritik tajam
tentang suatu hal. Cara menyampaikannya keras. Tapi dia ngasih alasan dan
solusi (jadi ketika sekarang ketemu someone yang gaya ngritiknya ga kira-kira,
gue sich asik-asik aja, tapi pake solusi ya. Pengkritik smart, bukan yang
jatuhin. : ) ). Gue jadi care ama sesuatu yang menurutnya penting itu. Jadi
lebih menyenangkan.
‘Weekly’ kemaren, saling kasih
masukan satu sama lain ama rekan kerja. Seneng aja, masih ada yang peduli. Semut
di kutub tampak, gajah di pelupuk mata.... mata gue segedhe apa yak? Wajar aja
kalo semut di kutub tampak, orang gajah aja bisa singgah di mata gue. LOL.
Becanda! Kita, diri sendiri, selalu merasa benar. Itulah gunanya orang-orang,
teman-teman di sekeliling kita, menjadi cermin dari perilaku kita, menjadi tempat
belajar dalam bersikap, menjadi ‘make up’ atitud kita. : )
Kritik, apapun, selama dikatakan
dengan cara yang tepat: intonasi yang tepat, pemilihan kata yang tepat, emosi
yang tepat.... tentu jauh lebih menyenangkan daripada apa yang dikatakan tanpa
dipikirkan lebih dulu. Ga semua orang bisa menerima dikatai gendut, meski
tubuhnya gendut. Ga semua orang senang dikatai kurus, meski dia tinggal tulang
dibalut kulit.
Gue sendiri masih belajar untuk
itu. Semoga gue pembelajar yang baik. Aamien. : )
Ga bisa bedain kanan-kiri, mesti
sepuluh kali ke suatu tempat biar ga nyasar, suka kebingungan kalo berangkatnya
siang dan pulangnya malem.... dan.... mari ceritakan kebodohan gue deket-deket ini.
Yah, April – Mei dech. : )
Akhir april, pas banget tuh
liburan anak-anak sekolah (ujian ya bok mereka, jadi ada yang libur), pas
banget ama ancol ngadain diskonan gedhe-gedhean. Apa yang terjadi pas hari
terakhir? Pengunjung Ancol ruaaaar biasa. Penumpang membludak buanyak banget di
Halte Ancol, sampe akhirnya tuh loket ditutup. : ( Penumpangnya ga muat
ditampung tuh halte, busnya ga ada. : ( Mau ga mau, akhirnya gue turun. Eh, ada
Mba-Mba yang ngikutin gue, dia nanya, sering ga kesini? Lah, rumah Om gue deket
banget ama Ancol. Ya gue bilang, sering banget. Terus dia tanya rumah gue
dimana, tujuan mana, dia mo bareng. Dia ga tau arah ke rumahnya di Matraman.
Itu hari pertamanya dia kerja di daerah-daerah situ.
Niatnya sich gue mo ngojek aja. Males
banget. Lagian uada cape juga seharian ngapa-ngapain. Tapi karena kasian ama
Mba itu, ya okelah, ngangkot. Dalam ati gue bayangin kepalanya temen gue
ngomong, “Gaya lo Nok, sendiri aja belum tentu lo ga nyasar.” LOL! Tapi karena
tu daerah lumayan gue kenal. Oke lah ya.
Jadi lo naek apa Nok?
Naik M15A ke kota, sambung M12 ke
senen... Mbanya itu katanya tau jalan dari Senen. Nach, pas uda diangkot menuju
ke Senen. Gue baru nyadar, bego banget ya gue naik M15A ke kota, mana di Mangga
Dua macetnya naudzubillah. Bisa kan naik M15 ke kota, lebih cepet. Terus naik
busway. Transit di Harmoni, dia bisa langsung ke Manggarai. Bego banget gue
kan?
Hahaha.... salahnya siapa ya ga
mo numpang siapa? Gayaan sich. :P
Pas ke Bogor....
Tempat tinggal gue tuh di Otista
kan ya? OTISTA! Dan buat ke Bogor, kita ke stasiun Jatinegara. Kita
macet-macetan tuh kesananya. Kebayang kan pasar Jatinegara rusuhnya gimana. :D
Oke. Semuanya baik-baik saja. Sampai akhirnya kita liat rute kereta pas
keretanya uda mulai jalan. Kalo dari Stasiun Jatinegara itu, kalo mo ke Bogor
muter dulu ke Senen, Kampung Bandan, Angke, Tanah Abang, Sudirman, Manggarai, balik
lagi ke TEBET! TEBET sodara-sodara! Itu dari Otista lo tinggal jalan aja
sampai!!!! Gue mesti muter satu jam dulu buat sampe ke Tebet lagi. Aturan kita
uda nyame ke Bogor! Hadeeeehhhh.....!!! Siapa yang biasanya naik 44 ke Kuningan
dan ngelewatin Stasiun Tebet? GUE!
Saking begonya sampe ga
kepikiran!
Bisa dicek di peta dah, tuh
Jatinegara – Otista – Tebet dimana. Hadaaaaaaaah!!!
Tapi pas cerita ama temen gue,
dia bilang uda ga heran lagi.